Keputusan

Semakin malam rintik hujan semakin gencar turun membasahi bumi ditemani isakkan yang tiada henti. Mungkin yang menemani hujan bukan hanya aku, tetapi deretan para perindu yang lain. Penyebab turunnya air mataku malam ini masih sama dengan malam-malam sebelumnya;kamu.
Aku sangat menyadari bahwa sebanyak apapun aku mengeluarkan air mata, kamu tidak akan  pernah mengerti–sekalipun menangis dihadapan mu. Aku pikir tangisan ku akan berhenti ketika hujan tidak lagi membahasi bumi namun dugaan ku sangat salah, tangisan dari mataku kian semakin memuncak seperti tidak ingin berhenti hingga yang ku tangisi ini menyadari.
Hidupku kian renta bersama memori yang dahulu kita lalui berdua. Canda tawa kita, lelucon mu yang menggelikan hingga membuatku terpingkal, senyum menawan dari bibir mu ketika melihat ku melakukan hal diluar akal, berbicara tentang si bintang yang malam itu mengapa hanya ada satu di langit yang membentang luas. Ini, inilah yang membuatku terisak dengan hebat–mengingat semua tentang mu.
Setiap kali kita bertemu dengan cara yang bisa terbilang aneh, kamu selalu menganggap yang pernah kita lalui hanyalah wewangian yang ikut pergi bersama angin. Tetapi bagaimana denganku, yang menganggap kita yang dahulu adalah kita yang seharusnya belum selesai hingga detik ini.
Dan pada kenyataannya kita memang belum selesai hingga detik ini. Karena disaat selangkah lagi kita menggapai impian kita, seseorang dari masa lalu mu datang menghampiri yang mungkin sudah lebih banyak membuat cerita bersamamu. Jika dibandingkan dengan ku jelas aku kalah dalam sisi manapun, sebab aku hanya orang baru dalam kehidupan mu.
Aku selalu ingin mencoba seperti mu, menjadikan manusia seperti layangan yang bebas kamu tarik dan ulur. Tetapi aku tidak bisa melakukan itu, karena kamu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang harus ku perjuangkan.
Ingin sekali saja bertemu denganmu–hanya berdua. Untuk membicarakan yang menurutku masih menjadi masalah, tetapi menurut mu sudah hilang dan ikut pergi bersama angin. Tetapi sampai saat ini aku masih menyakiti hatiku sendiri kerena tidak memiliki mental utuh untuk mengajak mu bertemu.
Semakin lama, semakin mengingatnya, semakin rapuh, semakin membuatku selalu hidup dalam bayang mu.
Aku bangkit dari posisi ku yang semula melipat kaki menjadi berdiri dan menarik nafas panjang karena hidupku bukan hanya tentang ia melulu” selanjutnya menghapus airmata dan menarik nafas lebih panjang dari sebelumnya. Lalu menghempaskan tubuh lusuh ini ke tempat peristirahatan.
Tanpa terasa kini hanya tinggal bau hujan saja yang tersisa. Tidak ada lagi rintik yang membasahi atap rumahku selain katak yang kembali memanggil hujan.
Keputusanku sudah bulat Aku merelakan mu bersama kekasih lala mu, tidak apa nasibku begini asalkan senyum masih mengembang lebar dari bibir mu. Terimakasih atas yang dahulu pernah kamu beri padaku, detik ini aku tidak akan mengganggu mu lagi sampai-sampai mengajak mu bertemu.

Comments

Popular posts from this blog

#001

#007