yogyakarta 2018

Aku kembali mengunjungimu dalam keadaan hatiku sedang hancur-hancurnya. Aku ke Jogja untuk acara pelepasan siswa-siswi, jelas aku dan seseorang yang membuatku hancur berbeda sekolah tetapi masih dalam satu naungan yayasan dan mengakibatkan keberangkatan itu berbarengan. Ingin sekali rasanya membatalkan keberangkatan ku setelah mengetahui kenyataan bahwa aku dan ia sudah tidak bisa sama-sama lagi, namun ada dua tanggung jawab yang harus kuselesaikan disana. Menjadi simbolis untuk pelepasan atribut sekolah dan  juga sambutan mewakili kawan-kawan yang lain. tetapi aku juga memahami Jogja tidak akan pernah berdusta pada ku walaupun keadaan sama sekali tidak mendukung.

Hari pemberangkatan tiba aku BUS 19 (kalau tidak salah), jangan kaget ya mendengar aku bus 19 karna bus yang diberangkatkan ke Jogja sebanyak 22 bus. Aku diantar mamah ku menuju tempat berkumpulnya bus, langsung saja ketika sampai barang-barang ku simpan di bagasi lalu menemui mamah ku kembali. Dari banyaknya candaan yang kita lewati tiba-tiba saja pertanyaan yang tidak sama sekali ingin ku dengar terucap dari bibirnya "dia dimana, ga janjian ketemu dulu emangnya" "engga ma" jelas bukan kalimat itu yang ingin aku lontar kan sebetulnya. Namun bagaimana lagi, aku merasa saat itu bukan waktu yang tepat untuk cerita.

Hati ku tenang kita di rest area pertama tuhan tidak mengizinkan mataku untuk melihatnya. Amat sangat disayangkan ketika di rest area kedua, aku dan kawan-kawan ku bergegas ke mushola untuk melaksanakan kewajiban aku masih tenang bahwa kita tidak juga ditemukan ternyata saat itu ada kawan ku bernama Diah teriak "rummm, ada ...." hanya berjarak 1 - 1 setengah meterlah kiranya jarakku dengan ia. Jelas aku belum menjelaskan kepada orang banyak bahwa cerita yang aku dan ia buat kini sudah usai, kawan ku yang satu Nadia namanya langsung mengajakku agar bergegas dari tempat itu. Ah terimakasih sayangku, Nadia.

Pukul 3 dini hari kalau tidak salah, kami (22 BUS) sampai di tempat wisata pertama, tidak sih lebih tepatnya ini adalah tempat transit dan untuk bersih-bersih ala mandi bebek saja sebenarnya, tidak mandi juga tidak masalah karna suasana disini begitu luar biasa, dingin.

Waktu sholat subuh tiba, jelas yang muslim laki-laki dan perempuan tidak berhalangan wajib untuk sholat. Aku dan buntut yang ga pernah jauh dariku (Nadia) bergegas dari depan bus menuju mushola. tidak disangka-sangka tuhan mempertemukan kami, tidak lebih kami hanya saling menatap. Ingin sekali menampar mukanya kala itu tetapi niat itu ku urungkan sambil hati mengucap "sadar, emang lu ada hak apa atas dia. udah sih biarin aja" maka baiklah aku memilih menahan emosi.

Hari-hari seterusnya pun begitu selama di Jogja ketika bertemu kami tak sengaja bertemu hanya saling menatap tidak tahu hati sama-sama berbicara apa, yang ku tahu dalam hatinya pasti sedang memaki ku habis-habissan.

Setelah kepulangan dari Jogja hari Seninnya aku mendapatkan Direct Message darinya di Instagram, kaget setengah gila rasanya saat itu mendapatkan pesan darinya lagi. kau tahu isinya? ungakapan rasa kecewanya padaku, nyatanya jika ditanya posisi siapa yang mengenaskan adalah posisiku. Tetapi sudah lah tidak apa, kami hanya perlu bicara toh setelah bicara pasti akan menemukan jalan keluar.

Comments

Popular posts from this blog

#001

Keputusan

#007