Peluk?

Memang tidak ada yang lebih baik dari tidak membahas siapapun ketika sedang chat atau pun bertatap muka secara langsung. Banyak bukan? Tetapi mengapa hal itu yang kamu pilih. Aku ingin hanya ada kita pada apapun yang seharusnya itu tidak melibatkan orang lain.

Apa kamu pernah membayangkan jika peluk ku jatuh di dada orang lain lebih parahnya sedih ku orang lain yang lebih dulu tahu. Aku selalu membayangkan hal itu. Aku takut tidak menjadi apa-apa ketika kamu butuh sebab kamu tak membagi apapun padaku.

Aku membagi dunia padamu sebab aku tahu kamu bisa menyimpan itu dan semisal nanti terjadi hal yang diluar dugaan nalar ku, kamu bisa membantu aku bangun juga keluar dari sesuatu yang menyakitkan.

Dengan lelah, sedih dan sepi mu aku tahu bahwa kamu seorang yang kuat. Seseorang yang tak pandai untuk mengeluarkan airmata. Seorang yang tidak pernah mengenal gagal. Berkali-kali kamu ingin menyerah namun segera ku lentangkan tangan agar kau jatuh di pelukan ku dengan tepat.

Lagi-lagi kau kalah jika berada dipeluk ku, airmata mu menempel di pundak ku dan mengalir deras di pipi mu. Kuat mu sudah di batas mana, orang lain tidak mengerti, gagal mu yang terhapus dengan semangat, orang lain tak ingin peduli.

Tapi apapun tentang kamu, aku peduli. Semoga waktu segera membawa kita pada sebuah temu. Nanti kita berpelukan yang lama. Capek tau, peluknya online terus.

Comments

Popular posts from this blog

#001

Keputusan

#007