Dekat (lagi)
Langit yang kamu tatap, adalah juga yang aku tatap.
Bumi yang kamu pijak, juga bumi yang pijak.
Rasanya terlalu rumit kalau aku bilang, semesta belum ingin melihat kita terpaut berdua.
Mungkin lebih tepatnya, semesta tidak ingin liat kita sama-sama.
Dari tempat aku sekarang, doa masih menjadi yang utama agar rasanya selalu dekat.
Kamu percaya? Bahwa doa adalah yang membuat jarak tidak lagi ada, doa yang membuat kita selalu merapal sumpah.
Di benakmu siapa yang tidak adil? Menurutku, waktunya saja yang belum tepat. Ingin menyalahkan, juga tidak mungkin jika harus mengutuk tuhan.
Malam ini, ada berapa bintang yang kau tatap? Apakah rembulan bersinar terang? Di rumah ku, meskipun mereka ramai di angkasa tetap saja rasanya sepi karena tidak ada kamu disini. Ini serius, aku ingin menatap kamu lebih dekat(lagi).
Aneh tidak sih, manusia di luaran sana melihat kita yang semakin hari semakin tidak paham mengenai kita. Tidak masalah lagi-lagi, yang terpenting kamu selalu bisa jaga kesehatan untuk aku jika suatu saat nanti tuhan mengizinkan aku menatap matamu dari dekat(lagi).
Oiya, sayangi paru mu ya.
Jangan buat dia teryutup asap.
Nanti kan mau ketemu aku lagi.
Comments
Post a Comment